Anak Zaman Sekarang Lebih Pilih Gadget, Edison Hadjar Ajak Warga Ingat Nilai Pancasila

Selokalampung.com – Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Bandar Lampung, Edison Hadjar, SE., mengajak masyarakat kembali mengingat dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ajakan tersebut disampaikannya saat kegiatan Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan (PIP-WK) di Kelurahan Enggal, Sabtu (7/3/2026).
Dalam kegiatan itu, Edison menyoroti perubahan perilaku anak-anak di era digital yang dinilai semakin jauh dari nilai kebersamaan.
“Sekarang ini anak-anak lebih memilih gadget dibanding bermain dengan teman-temannya. Ini sangat berbahaya karena tidak memupuk rasa kesetiakawanan dan empati,” kata Edison di hadapan peserta sosialisasi.
Menurut anggota Komisi I DPRD Kota Bandar Lampung tersebut, orang tua memiliki peran penting dalam menanamkan nilai moral kepada anak sejak dini. Pendidikan akhlak dan budi pekerti, kata dia, harus menjadi dasar agar generasi muda memahami norma dan nilai yang terkandung dalam Pancasila.
“Ajarkan anak akhlak dan budi pekerti sejak dini, sehingga mereka tahu dan mengerti nilai-nilai serta norma yang ada dalam Pancasila,” ujarnya.
Edison juga mengingatkan bahwa pengamalan Pancasila tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga kewajiban seluruh masyarakat, termasuk para orang tua di lingkungan keluarga.
“Mari kita mengingat kembali nilai-nilai Pancasila dan bagaimana mengamalkan lima sila tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Ia kemudian menjelaskan makna dari setiap sila Pancasila. Pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut Edison, negara menjamin kebebasan setiap warga untuk memeluk agama sesuai keyakinannya.
Sementara pada sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terkandung makna bahwa seluruh warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum serta harus menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.
Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia, Edison menegaskan bahwa meskipun Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa dan adat istiadat, seluruh rakyat tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai isu yang dapat memecah belah persatuan bangsa, termasuk penyebaran berita bohong di media sosial.
“Banyak upaya yang ingin memecah belah persatuan, mulai dari terorisme hingga isu politik yang menyesatkan. Jangan sampai jempol kita ikut menebar fitnah dan menyebarkan hoaks yang bisa merusak persatuan bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Edison menjelaskan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, sebagai dasar pelaksanaan demokrasi di Indonesia melalui pemilihan umum, baik pemilihan presiden, legislatif, maupun kepala daerah.
“Melalui Pemilu itulah rakyat memilih pemimpin dan wakilnya di pemerintahan maupun di parlemen,” katanya.
Sedangkan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menurutnya berkaitan dengan upaya pemerintah mewujudkan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Ia mencontohkan kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini diberikan pemerintah. Namun menurutnya, kebijakan tersebut masih perlu dievaluasi agar benar-benar tepat sasaran.
“Setiap liter bensin yang dibeli masyarakat sebenarnya disubsidi oleh pemerintah. Tapi kenyataannya, subsidi itu justru banyak dinikmati orang mampu, sementara masyarakat kurang mampu belum sepenuhnya merasakan manfaatnya,” tandas Edison.
(*)



