Ketua DPC PDIP Bandar Lampung Dedi Yuginta: Pancasila Solusi Bangsa, Cintai Produk Lokal

Anggota DPRD Kota Bandar Lampung Dedi Yuginta menyampaikan sambutan saat Sosialisasi Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, Minggu, (11/10/2026).

Bandar Lampung, Seloka —

Di hadapan ratusan warga yang memadati ruang pertemuan, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Bandar Lampung yang juga anggota DPRD Kota Bandar Lampung, Dedi Yuginta, membeberkan pandangannya soal arus modernisasi dan nilai-nilai kebangsaan.

Politisi senior yang akrab disapa Bang Ginta ini, menggelar Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, sebuah agenda rutin yang diselipkannya dengan guyonan khas dan cerita-cerita personal di Bandar Lampung, Minggu, (11/10/2026) siang.

Bang Ginta mengawali risalahnya dengan menekankan pentingnya ilmu pengetahuan yang tidak mudah lekang oleh waktu. Baginya, pemahaman ideologi bukan sekadar wacana hafalan di lembar pustaka, melainkan bekal sosial yang wajib ditularkan.

“Bekal ilmu itu untuk selamanya. Nanti kalau sudah dapat ilmu, sebarkan ke lingkungan sekitar,” kata Bang Ginta di sela-sela sambutannya.

Politikus PDI Perjuangan itu menyoroti penetrasi gawai dan media sosial yang merambah hingga ke dapur-dapur warga. Menurutnya, arus informasi digital membawa guncangan ganda, yaitu peluang sekaligus ancaman disintegrasi.

Benteng terkuat untuk meredam dampak negatif tersebut, kata dia, tak lain adalah pemaknaan ulang terhadap Lima Sila.

Ia merefleksikan kembali peristiwa historis Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai cikal bakal kesadaran berbangsa.

“Kalau patokan kita Pancasila, niscaya semua masalah di bangsa ini selesai. Toleransi dan persatuan itu kunci,” tuturnya.

Suasana sosialisasi yang mulanya kaku mendadak mencair saat Bang Ginta mulai membagikan anekdot pribadinya soal pilihan gaya hidup dan kuliner.

Di tengah serbuan gaya hidup modern dan kuliner barat, ia mengaku tetap berada di barisan penikmat masakan olahan Nusantara.

Ia bercerita tentang pengalamannya saat harus menginap di hotel berbintang lima. Meski meja prasmanan dipenuhi deretan menu bergaya barat, matanya tetap bergerilya mencari menu lokal.

“Makanan tradisional yang saya suka itu uduk, lontong sayur, karedok. Saya tidak suka roti, di hotel bintang lima pun, kalau tidak ada nasi goreng atau bubur ayam, rasanya belum makan,” selorohnya diiringi tawa peserta.

Bagi Bang Ginta, preferensi lidah bukan sekadar urusan selera, melainkan manifestasi dari rasa bangga terhadap identitas nasionalismenya.

Sikap ini yang kemudian ia korelasikan dengan pentingnya keberpihakan masyarakat terhadap produk-produk buatan dalam negeri.

“Gak bisa dipungkiri bahwa lidah kita ini lidah Nusantara. Kita juga harus cinta produk Indonesia. Kualitas barang kita tidak kalah bagus dibanding merek luar yang mahal,” pungkas Bang Ginta.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *