Bandar Lampung, Selokalampung.com —
Siang belum sepenuhnya pudar ketika pesan pendek itu terkirim, menembus riuh lalu lintas Bandar Lampung yang konstan. Tepat pada perayaan Hari Batik Nasional hari ini, di balik hiruk-pikuk politik kota dan ruang-ruang sidang gedung wakil rakyat, ada helai-helai benang yang terus dirajut, sebuah narasi panjang tentang identitas, ketahanan, dan jejak jemari para pengrajin yang kerap dilupakan zaman.
Sri Ningsih Djamsari, bukan sekadar politisi Srikandi dari fraksi PDI Perjuangan. Di dalam tutur katanya, ada denyut kepedulian yang hangat terhadap warisan takbenda yang menjadi napas Nusantara.
Semangat ideologis yang diusung Sri sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Dalam berbagai kesempatan, Megawati selalu mengingatkan bahwa batik adalah refleksi keberagaman budaya Indonesia yang tak terbatas oleh suku maupun agama.
Bagi Megawati, jika kita menghilangkan satu saja motif tradisi, maka ada rantai kebudayaan yang terputus. Karena itulah, melestarikan batik adalah bagian dari tugas ideologis untuk menjaga kepribadian bangsa dalam kebudayaan.
Saat ditanya mengenai makna Hari Batik Nasional di tengah desakan modernisasi dan perlindungan bagi para penenun serta pengrajin lokal, jawaban Sri mengalir riak, sederhana namun menghujam sarat makna.
“Satu batik, sejuta cerita,” tulis Sri melalui pesan lintas layar, seolah menegaskan bahwa di balik setiap lengkung motif Tapis dan Sembagi Lampung, tersimpan riwayat panjang keindahan yang tak usang digilas waktu.
Bagi Sri Ningsih, batik bukan sekadar helai kain penutup tubuh atau atribut formalitas saban Jumat. Ia adalah identitas yang bernapas, kebanggaan nasional yang melintasi sekat generasi.
“Kami bangga mengenakan dan melestarikan batik sebagai identitas serta warisan budaya kebanggaan bangsa Indonesia,” ujar Sri.
Ia memandang lembaran kain berbalur lilin malam itu bak cermin wajah Nusantara yang jujur, menyimpan jejak peluh para pengrajin sekaligus doa-doa keindahan yang diwariskan lintas generasi.
Dalam pandangannya, estetika batik memiliki keajaiban universal. Ia tak kenal usia, tak memandang kasta.
Batik adalah jembatan yang menghubungkan ingatan masa lalu para sesepuh dengan spirit zaman generasi muda.
“Cocok dan keren siapapun yang memakainya, baik dari kalangan remaja sampai ke yang tua,” tambahnya seraya menyematkan ucapan hangat untuk seluruh pecinta warisan Nusantara: “Selamat Hari Batik Nasional.”
Namun di balik keindahan motif yang memikat mata, ada guratan harapan yang tersirat dari balik ruang legislatif pada Jumat yang syahdu ini.
Pelestarian kebudayaan tak cukup hanya dengan sanjungan di atas panggung parade; ia membutuhkan payung perlindungan sosial yang nyata bagi para pengrajin batik di sudut-sudut kota.
Sebab, selama jemari para pengrajin masih terus menorehkan lilin malam, selama itulah cerita tentang Lampung dan Indonesia akan terus hidup, dirawat oleh tradisi, dijaga oleh kebijakan.
(dn)


Respon (1)